Rabu, 12 Desember 2012


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR ILMU TANAH

ACARA V
ANALISIS DERAJAT KERUT TANAH











Disusun oleh
                                                Nama              : Ken priambodo
                                                NIM                : A0B012027
                                                Kelompok      : II D3 PSL
















KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2012



BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar belakang
Tanah merupakan hasil evolusi dan mempunyai susunan teratur yang unik yang terdiri dari lapisan-lapisan atau horison-horison yang berkembang secara genetik. Proses-prose pembentukan tanah atau perkembangan horizon dapat dilihat sebagai penambahan, pengurangan, perubahan atau translokasi.
            Tanah mempunyai cirri khas dan sifat-sifat yang berbeda-beda diantara tanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu meliputi fisika dan sifat kimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur, dan kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukan sifat yang dipengaruhi oleh adanya unsur maupun senyawa yang terdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat kimia yaitu pH, kadar bahan organik dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK). Setiap tanah memiliki sifat mengembang dan mengkerut, oleh karena itu pada praktikum kali ini akan di bahas tentang derajat kerut tanah.


A.    Tujuan
Untuk mengetahui besarnya derajat kerut dari berbagai jenis tanah dan membandingkan besarnya derajat kerut antar jenis tanah yang diamati.




BAB II
Tinjauan pustaka


          Secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan anorganik, bahan organik, udara dan air. Bahan anorganik secara garis besar terdiri atas golongan fraksi tanah yaitu pasir, debu, dan liat. Masing-masing fraksi mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda-beda. Fraksi-fraksi itu antara lain :
1.      Pasir
Pasir merupakan suatu fraksi yang memiliki ukuran 0.05 mm – 2 mm, bersifat tidak plastis dan tidak liat, daya menahan air rendah, ukurannya yang besar menyebabkan ruang pori makro lebih banyak, perkolasi cepat, sehingga aerasi dan drainase tanah pasiran relatif baik.

2.      Debu  (lanau)
Debu atau yang biasa disebut dengan lamau ini merupakan suatu fraksi yang memiliki ukuran 0.002 mm – 0.05 mm, memiliki sedikit sifat plastis dan kohesi yang cukup baik. Debu sebenarnya merupakan pasir mikro dan sebagian besar adalah kuarsa.
3.      Liat
Fraksi liat merupakan suatu fraksi yang mamiliki ukuran kurang dari 0.002 mm, berbentuk mika atau lempeng, bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sifat mengembang dan mengkerut yang besar. Bila kering menciut dan banyak     menyerap energi panas, bila dibasahi terjadi pengembangn volume dan terjadi pelepasan panas yang disebut sebagai panas pembasahan (heat of wetting).
          Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah untuk diolah, mudah merembeskan ar, dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi buruk, lengket dan dalam pengolahannya sehingga disebut tanah berat.
          Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandunganliat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah maka derajat kerut tanah makin kecil.
Tanah dapat terbagi menjadi beberapa jenis yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada jenis tanah yang mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengkerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah mengerut maka tanah menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi. Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE (Coefficient Of Linear Extensibility) atau PVC (Potential Volume Change = Swell index = index pengembangan). Istilah COLE banyak digunakan dalam bidang ilmu tanah (pedology) sedang PVC digunakan dalam bidang engineering (pembuatan jalan, gedung-gedung dsb). (Hardjowigeno,2010)
Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil(Notohadiprawiro, 1998).
Tanah yang banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat. (Sarief, 1986)


BAB III
METODE PRAKTIKUM


A.    Alat dan bahan
·         Contoh tanah halus diameter 0,5mm (Inseptisol, Andisol, Vertisol, Ultisol, Entisol)
·         Botol semprot
·         Air
·         Cawan porselen
·         Colet
·         Cawan dakhil
·         Jangka sorong
·         Serbet / lap pembersih.

B. Cara Kerja
·         Tanah halus diambil secukupnya, dimasukkan ke dalam cawan porselen, ditambah air dengan menggunakan botol semprot, lalu diaduk secara merata dengan colet sampai pasta tanah menjadi homogen.
·         Pasta tanah yang sudah homogen tadi dimasukkan ke dalam cawan dakhil yang telah diketahui diameternya dengan menggunakan jangka sorong. (diameter awal)
·         Cawan dakhil yang telah berisi pasta tanah tersebut dijemur di bawah terik matahari, kemudian dilakukan pengukuran setiap 2 jam sekali sampai diameternya konstan. (diameter akhir)
Perhitungan :
Derajat kerut = diameter awal – diameter akhir  x 100%                                                       diameter awal

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Pada praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah kali ini, kami dari rombongan 2, kelompok C mendapatkan jenis tanah entisol. Tanah entisol adalah tanah-tanah yang memiliki kecenderungan menjadi tanah asal yang baru. Tanah ini memiliki ciri adanya kenampakan yang kurang muda dan tanpa horison genetik alamiah, atau dengan kata lain tanah entisol hanya memiliki horizon-horison permulaan. Sebagian besar tanah di dunia yang berkembang dari sedimen yang tidak dapat disatukan adalah jenis tanah entisol, yang menjadi penyebab utama keberadaan tanah entisol ini adalah adanya lereng yang curam sehingga erosi cepat terjadi.
B.     Dalam praktikum kali ini, yang kita amati adalah sebagai berikut:
DERAJAT KERUT TANAH
Besarnya derajat kerut tanah ditentukan oleh berat ringannya tanah. Nilai derajat kerut tanah akan semakin besar apabila kandungan liatnya semakin tinggi. Sedangkan bahan organik tanah memiliki pengaruh yang berkebalikan dengan kandungan tanah liat. Semakin tinggi kandungan bahan organik, maka derajat kerut tanahnya semakin kecil.
Pada praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara pertama, yaitu mengenai derajat kerut tanah.Kami kelompok C dari rombongan II memperoleh jenis tanah entisol. Dari setiap rombongan terdapat 5 kelompok. Masing-masing kelompok mengamati jenis tanah yang berbeda-beda. Hasil pengamatan dari kelima kelompok, yang mengamati jenis tanah yang berbeda dapat diperoleh tabel sebagai berikut :


Tabel 1. Derajat kerut beberapa jenis tanah
No.
Jenis
Tanah

Pengamatan ke
Derajat Kerut
(%)
1
2
3
4
5
6

1.
Ultisol
Ø1
Ø2
x
3,37
3,35
3,36
3,35
3,27
3,31
3,33
3,263
3,2965
3,22
3,24
3,23
3,22
3,21
3,215

4,5
4,2
4,35
2.
Inceptisol
Ø1
Ø2
x
4,02
3,855
3,9375
3,97
3,65
3,81
3,903
3,55
3,7265
3,803
3,404
3,6035
3,7
3,33
3,515
3,7
3,33
3,515
7,96
13,6
10,78
3.
Entisol
Ø1
Ø2
x
3,85
3,81
3,83
3,5
3,48
3,49
3,425
3,63
3,5275
3,42
3,44
3,43
3,58
3,68
3,632
3,46
3,49
3,477
11,1
8,4
9,75
4.
Vertisol
Ø1
Ø2
x
3,86
3,83
3,845
3,54
3,51
3,52
3,49
3,47
3,48
3,42
3,33
3,375
3,4
3,33
3,35

11,9
13,8
12,85
5.
Andisol
Ø1
Ø2
x
3,8
3,8
3,8
3,7
3,7
3,7
3,6
3,6
3,6
3,44
3,44
3,44
3,43
3,43
3,43
3,41
3,41
3,41
10,26
10,26
10,26

Angka pada setiap kolom pada tabel di atas diperoleh dari pengukuran dengan menggunakan jangka sorong. Pengamatan dengan cara pengukuran itu dilakukan dengan selang waktu 2 jam. Dari setiap pengukuran 2 jam itu besarnya pengkerutan diukur sampai dengan didapatkan diameter yang konstan. Pencapaian diameter konstan dari setiap jenis tanah diperoleh pada jumlah pengamatan yang berbeda. Hal itu dapat dilihat pada jenis tanah ultisol dan jenis tanah vertisol yang pada pengamatan ke-5 nya telah mencapai nilai konstan. Sedangkan pada jenis tanah inceptisol. Entisol,dan andisol baru pada pengamatan ke-6 nya mencapai nilai konstan.
Pada kolom derajat kerut tanah terdapat nilai angka dalam bentuk persentase. Persentase itu diperoleh dari selisih diameter awal dengan diameter akhir dibanding dengan diameter awal, lalu dicari nilai persentasenya dengan cara mengalikannya dengan 100%. Atau dapat ditulis dengan rumus sebagai berikut :
Derajat Kerut =          
Pada sekali pengamatan dalam acara praktikum derajat kerut tanah, pengamatan dilakukan pada 2 cawan dakhil. Sehingga pada setiap jenis tanah dilakukan 2 kali pengamatan, yaitu pada cawan dakhil pertama dan cawan dakhil kedua.
Pada cawan dakhil pertama dari jenis tanah entisol diperoleh diameter awal sebesar 3,85 cm, diameter akhir 3,465 cm dengan nilai derajat kerut pada cawan dakhil pertama 11,1 %. Dari cawan dakhil pertama dari jenis tanah ultisol diperoleh diameter awal sebesar 3,37 cm, diameter akhir 3,22 cm dengan nilai derajat kerut 4,5 %. Pada cawan dakhil pertama dari jenis tanah inceptisol diperoleh diameter awal sebesar 4,02 cm, diameter akhir 3,7 cm dengan nilai derajat kerut 7,96 %. Pada cawan dakhil pertama dari jenis tanah vertisol diperoleh diameter awal sebesar 3,86 cm, diameter akhir 3,4 cm dengan nilai derajat kerut 11,9 %. Dan cawan dakhil pertama dari jenis tanah andisol memiliki nilai diameter awal 3,8 cm, diameter akhir 3,41 cm dengan nilai derajat kerut 10,26 %.
Pada cawan dakhil kedua pada jenis tanah entisol diketahui nilai diameter awal 3,81 cm, diameter akhir 3,49 cm dan nilai derajat kerut 8,4%. Dari cawan dakhil kedua pada jenis tanah ultisol diketahui nilai diameter awal 3,35 cm, diameter akhir 3,21 cm dan nilai derajat kerut 4,2%. Dari cawan dakhil kedua pada jenis tanah inceptisol diketahui nilai diameter awal 3,855 cm, diameter akhir 3,33 cm dan nilai derajat kerut 10,78%. Dari cawan dakhil kedua pada jenis tanah vertisol diketahui nilai diameter awal 3,83 cm, diameter akhir 3,3 cm dan nilai derajat kerut 12,85%. Dari cawan dakhil kedua pada jenis tanah yang terakhir yaitu jenis tanah andisol diketahui nilai diameter awal 3,8 cm, diameter akhir 3,41 cm dan nilai derajat kerut 10,26%.
Dari nilai derajat kerut yang telah diketahui dari cawan dakhil pertama dan cawan dakhil kedua pada masing-masing jenis tanah, maka dapat diketahui nilai rata-rataderajat kerut dari setiap jenis tanah. Seperti dapat kita lihat pada tabel di atas bahwa nilai rata-rata derajat kerut dari jenis tanah ultisol adalah 4,35%, inceptisol 10,78%, entisol 9,75%, vertisol 12,85%, dan andisol 10,26%. Bila dilihat dari nilai derajat kerut tersebut maka dapat diketahui nilai derajat kerut rata-rata dari yang terkecil sampai terbesar adalah ultisol (4,35%), entisol (9,75%), andisol (10,26%), dan yang memiliki nilai rata-rata derajat kerut yang tertinggi adalah jenis tanah vertisol (12,85%).
Besar kecilnya derajat kerut tanah dipengaruhi oleh berat ringannya tanah. Tanah ringan adalah tanah yang banyak mengandung pasir sehingga mempunyai tekstur yang kasar, mudah untuk diolah, dan mudah untuk merembeskan air. Sedangkan tanah berat adalah tanah yang lebih banyak memiliki kandungan liat sehingga sulit untuk meloloskan air, memiliki aerasi yang jelek, tanahnya lengket, dan suliut untuk diolah. Dengan mengetahui nilai derajat kerut tanah, maka kita juga dapat mengetahui kadar kandungan bahan organik dari tanah tersebut. Hal itu disebabkan karena kadar bahan organik memiliki pangaruh yang saling berkebalikan dari ukuran berat ringan tanah, yaitu semakin tinggi kandungan bahan organik tanah maka nilai derajat kerut tanahnya akan bernilai semakin kecil.
Dari nilai rata-rata derajat kerut yang telah kita ketahui, maka juga dapat kita ketahui banyaknya kandungan bahan organik di dalam tanah. Dari data tersebut diketahui urutan dari jenis tanah yang memiliki kandungan bahan organik yang terkecil saampai dengan yang terbesar adalah vertisol (12,85%), inceptisol (10,78%), andisol (10,26%), entisol (9,75%), dan ultisol (4,35%).
Derajat kerut pada tanah jenis Vertisol termasuk besar bila dibandingkan dengan tanah yang lainnya. Derajat kerut yang besar bahwa tanah Vertisol memiliki kandungan liat yang lebih banyak daripada jenis tanah yang lain. Karena koloid liat dapat mengisi air diantara paket-paket kristal. Bila cukup banyak air yang diabsorpsi atau diserap, maka volumenya akan membesar dan tanah akan tampak menggelembung. Namun, jika kondisi tanah kering, air menguap dan koloid akan mengkerut kembali. Tetapi tanah Vertisol memiliki kandungan bahan organik yang lebih kecil daripada tanah yang lain.
Sifat menggembung dan mengkerutnya tanah disebabkan oleh besarnya prosentase (%) kandungan mineral monmorilonit yang tinggi secara fisik tanah mineral merupakan campuran dari bahan organik, anorganik, udara dan air. Bahan anorganik secara garis besar terdiri dari golongan fraksi tanah yaitu pasir, debu dan liat. Masing-masing fraksi memiliki ukuran dan sifat yang berbeda. (Penjelasan mengenai fraksi tanah telah dijelaskan pada Tinjauan Pustaka).
Tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya ikat terhadap air yang lemah. Oleh karena itu, tanah mudah menjadi kering dan kurang subur. Untuk mengatasinya dapat dilakukan cara dengan menambahkan bahan organik sehingga kemampuan mengikat air meningkat. Hal ini disebabkan karena sifat bahan organik sebagai zat perekat antara butir-butir tunggal.
Tanah yang bertekstur halus mempunyai keliatan yang tinggi dan cenderung menjadi keras dan berbongkah jika dalam keadaan kering atau kekurangan air. Hal ini dapat dilihat pada tanah Vertisol, tanah yang mempunyai tekstur halus. Hal ini disebabkan kohesi butir-butirnya, kecil lempeng dari rental.
Tanah berlempung dan berdebu mempunyai kandungan air yang cukup sehingga akan menggembung dan melekat. Hal ini disebabkan daya menahan air pada tanah lempung dan debu, pada umumnya besar. Apabila mengering, tanah ini mengkerut dan mengabsorpsi (menyerap) banyak sekali energi. Namun, apabila dilakukan pembasahan, akan kembali mengembang dengan melepaskan energi panas. Terdapatnya debu dan lempung dalam tanah akan menentukan kehalusan teksturnya serta lembutnya gerak air dan udara.





















BAB V
PENUTUP



A.           Kesimpulan
Dari hasil praktikum di lapangan adalah
Mengerti tentang derajat kerut dalam suatu tanah yang diletakan dalam
Derajat Kerut Tanah
Tertinggi : Tanah Vertisol  (26,832 %).
Terendah : Tanah Andisol (7,987 %).
Derajat kerut tertinggi pada Tanah Vertisol, berarti tanah tersebut memiliki kandungan liat yang tinggi dan bahan organik rendah. Sedangkan Tanah Andisol memiliki kandungan liat yang rendah dan bahan organik yang tinggi.
Sifat mengembang dan mengkerutnya tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi.
















BAB VI
DAFTAR PUSTAKA



Buckman, Harry O. and Nyle C. Brady, Soegiman (terjemah). 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara: Jakarta.

Foth, Henry D. 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah (terjemahan). Gajah Mada University Press: Yogyakarta.

Hardjowigeno, Sarwono. 2010. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo: Jakarta.

Foth, Henry D. 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah (terjemahan). Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Konstitusi; Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar